Bagi kita seorang muslim mencari ilmu hukumnya wajib, dimulai dari timangan ibu sampai akhir hayat. Kita sering mengatakannya sebagai "belajar sepanjang masa".
Bagi kita bangsa Indonesia, pendidikan sekarang menjadi primadona pembangunan, menjadi prioritas pembangunan di beberapa daerah, semuanya bertujuan agar ada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ada yang menarik ketika pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2011, isu kecurangan dan contek masal menjadi hangat ramai dibicarakan, seakan-akan dunia pendidikan kita "tidak ada nilai kejujuran". Fenomena Ibu Siami di SD Gadel Surabaya menjadi banyak dibicarakan orang, bahkan liputan media terhadap hal itu sangat luar biasa.
Jika saja kita sadar, bahka "dengan ilmu" Allah akan menghinakan seseorang, dan "dengan ilmu" pula Allah memuliakan seseorang.
Qorun adalah fenomena yang diuraikan dalam al-Qur'an surat al-Qoshoh, bagaimana Qorun kehidupannya yang bergelimang harta dan pengetahuannya juga tergolong "ilmuan" di jamannya. Qorun merasa dengki dengan diangkatnya Nabi Musa menjadi Rasul, sedangkan Nabi Musa tidak dikaruniai harta yang melimpah. Maka Qorun menjadi congkak, dan ketika diingatkan oleh kaumnya, maka dia mengatakan "harta yang aku miliki aku peroleh karena ilmu pengetahuan yang aku miliki". Akhir cerita Qorun dihinakan oleh Allah SWT, dia ditenggelamkan bersama hartanya ke dalam perut bumi. Naudzubillah min dzalik. Qorun adalah contoh manusia yang dihinakan Allah SWT karena dengan ilmunya dia congkak dan sombong. Bagaimana dengan kita bangsa Indonesia, yang dipertontonkan di media "banyak sekali pertengkaran adu argumen ilmu, tapi miskin amal", kita takut... semoga bangsa Indonesia tidak di hinakan oleh Allah SWT karena ilmunya parra penghuni bangsa ini yang gemar berdebat, tapimiskin berbuat, apalagi berkorban untuk orang lain atau untuk bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia didrikan oleh tokoh pejuang antara lain : KH. Hasyim Asyari, Soekarno, Agus Salim, KH.. Ahmad Dahlan, Jendral Soedirman dan pejuang-pejuang lainnya. Ini bagi kita, sebagai gamjbaran bahwa bangsa Indonesia mengalami masa yang dimuliakan Allah melalui para tokoh, pejuang yang dengan ilmunya diabdikan dirinya untuk kepentingan bangsa. Masih segar dalam ingatan kita, Gus Dur yang tulus memimpin negara "diturunkan dengan cara tidak prosedural" oleh orang-orang yang mengatakan dirinya "pandai-cerdik-cendikia", nyatanya "keadaan bangsa ini tidak menjadi lebih baik". Dan kita saksikan bersama (saya meyakini) Gus Dur termasuk salah seorang yang dimuliakan Allah SWT karena ilmunya, beliau ihlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan masyarakatnya dan bangsanya.
Al hasil, sampai akhir hayatnya (satu tahun lebih setelah menghadap ke haribaan ilahi robbi) makamnya "qubur" tidak pernah sepi diziarahi oleh masyarakat. Ini tidak lain adalah bukti Allah mengkat derajatnya karena ilmu yang diabdikannya untuk agama, bangsa dan negara.
Akhirnya, salah satu hal yang harus menjadi perhatian bersama adalah, marilah kita jadikan bangsa ini "dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya menjadi bangsa yang martabat" dan akhirnya memperoleh kemuliaan dari Allah SWT. Jayalah bangsaku, damailah negeriku, rohman-rohim Mu ya Allah senantiasa bangsa ini idam-idamkan demi menyosngsong kehidupan sejahtera dunia akhirat.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Juni 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Beguru pada Mbah Hasyim
Konon diceritakan ! Ketika Mbah Hasyim (sebutan populer KH. Hasyim Asy'ari di kalangan Nahdhiyyin) didatangi tamu "Penggede Penjajah Jepang" untuk meminta Mbah Hasyim menjadi Presiden, beliau menolak "merasa tidak cocok menjadi Presiden Indonesia".
Penolakan Mbah Hasyim ini tidak membuat Penggede Jepang menyerah, lalu Penggede Jepang mendesak "Kalau begitu siapa yang pantas menjadi Presiden Indonesia", untuk menjawab pertanyaan tersebut beliau memanggil putranya KH Wachid Hasyim (ayah Gus Dur). Sesaat kemudian KH. Wachid Hasyim menjawab, yang pantas menjadi Presiden Indonesia ya "Soekarno". Peristiwa ini terjadi sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Di sini ada pelajaran sangat berharga bagi kita dan bagi bangsa Indonesia yang mengalami krisis kepercayaan.
Pertama, Sosok Mbah Hasyim tidak lantas menjadi ajing mumpung ada kesempatan menjadi Presiden lalu beliau menerima tawaran itu, padahal jika saya beliau berkenan "sudah tentu peluangnya sangat besar" saat itu.
Kedua, Mbah Hasyim sangat menghargai pemuda (aku yaqin beliau mesti tahu jawabnya), tetapi untuk menjawabnya masih memerlukan pendapat putra beliau (KH. Wachid Hasyim).
Ketiga, Mbah Hasyim adalah sosok bangsa Indonesia yang jujur, tidak serakah dan mengedepankan masa depan bangsa.
Sikap Mbah Hasyim sejalan dengan esensi manusia yang ditakdirkan menjadi penghuni bumi, yaitu manusia sebagai Hamba Allah dan manusia sebagai Khalifatullah. Allah berfirman :
وما خلقت الـجن والإ نس إلا ليعبدوان
ولقد كتبنا فى الزبور من بعد الذكر ان الإرض يرثها عبادي الصالـحوان
Jika saja, tokoh-tokoh kita, para politi dan penyelenggara negara lainnya belajar dari hal-hal di atas, masyarakat tidak dibikin pusing oleh ulah mereka, masyarakat menjadi nyaman-tenang-bertambah sejahtera, tontonannya bukan orang-orang yang saling mengolok dan lempar tanggung jawab.Semoga kita bisa belajar dari Mbah Hasyim,........ Amin.
Kamis, 02 Juni 2011
Mendidik Diri Sendiri
Ketika kita bertindak sebagai orang tua kita sering memberi nasehat anak kita, ketika kita bertindak sebagai sahabat kadang kita memberi nasehat sahabat kita, Ketika kita bertindak sebagai guru maka tugas utama kita mendidik dan mengajar murid-murid kita.
Apapun kedudukan kita janganlah pernah melupakan memberi nasehat kepada orang-orang di sekekeliling kita, bahkan ketika kita tidak bertindak sebagai apa-apa bertindaklah sebagai diri kita dan hingga harus menasehati diri kita sendiri. Demikian ini menjadi penting agar kita terhindar dari golongan orang yang dimurkai Allah SWT, sebagaimana Firman-Nya :
كَبُرَ مَقْتاً عِنْد اللهِ لما تَقوالوان مالا تَفعلوان
Mendidik diri sendiri menjadi penting, sebab akan dapat meningkatkan kualitas kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu jadikanlah diri sendiri sebagai contoh baik (uswatun hasanah) bagi diri sendiri, maupun orang lain ketika kita bertindak dan atas nama sesuatu jabatan, bukankan Rasulullah Muhammad SAW telah berhasil mengubah perilaku "jahiliyyah, primitif, hedonis" dan prilaku jelek lainnya di kalangan Arab ketika hanya dalam waktu kurang lebih 23 tahun, faktor yang penting adalah Rasulullah sebagai uswatun hasanah (contoh perilaku kehidupan yang baik bagi masyarakatnya dan ummatnya), bahkan sampai 14 abad kemudian "bahkan sampai hari akhir " .
Bangsa ini sangat memerlukan orang-orang yang bisa mendidik dirinya sendiri, jika tidak kehidupan bangsa ini (Indonesia) akan menjadi semakin kacau, dan tidak bermasa depan. Lantas bagaimana dengan anak cucu kita !
Senin, 25 April 2011
Banyak hutang, jangan pusing ?
Hutang bagi seseorang terasa melekat dalam roda kehidupan, dengan "hutang" maka ada dua pihak yang saling menerima manfaat. Bagi "orang yang hutang" maka kebutuhannya akan tercukupi -ini kesenangan tersendiri-, sedagkan bagi "orang yang merelakan uangnya untuk dipinjamkan kepada orang lain" maka pahala baginya luar biasa -karena menolong kepada orang yang membutuhkan-. Namun yang perlu diingat hutang di sini adalah hutang yang memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, bukanlah hutang untuk memenuhi kebutuhan non primer, apalagi hutang hanya hutang hura-hura. Al-hasil, memang umumnya kehidupan ini tidak sepi dan lepas dari "hutang-piutang".
Bagi kita yang terlanjur hutang -asalkan hutang diperggunakan untuk kebaikan- maka jika kita ingin diberi kemudahan Allah swt mampu melunasinya perbanyaklah membaca ayat al-Quran Surat Ali Imron ayat 26, di bawah ini
Sebuah riwayat menceritakan :
Dari sahabat Anas bin Malik ra, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda kepada Sahabat Muadz bin Jabal ra., Apakah kamu mau aku ajarkan suatu doa, yang apabila doa itu dibaca maka andaikan kamu mempunyai hutang sebanyak gunung uhud maka Allah swt akan memberikan kemampuan untuk melunasi hutang yang kamu tanggung. Wahai Muadz bacalah , ........... (QS ali Imron ayat 26).
Tentunya, kita harus memahami, dengan memperbanyak membaca doa di atas dan bekerja keras berusaha demi mencari ridlo Allah swt maka doa kita akan terkabulkan, dan hutang-hutang kita dapat kita penuhi (luna) karena pertolongan Allah swt.
Semoga kita mampu mengambil pelajaran dan manfaat dari tulisan ini. amin ...
Bagi kita yang terlanjur hutang -asalkan hutang diperggunakan untuk kebaikan- maka jika kita ingin diberi kemudahan Allah swt mampu melunasinya perbanyaklah membaca ayat al-Quran Surat Ali Imron ayat 26, di bawah ini
قل اللهم مالك الملك تؤتى الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء بيدك الخير إنك على كل شى ء قدير
Sebuah riwayat menceritakan :
Dari sahabat Anas bin Malik ra, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda kepada Sahabat Muadz bin Jabal ra., Apakah kamu mau aku ajarkan suatu doa, yang apabila doa itu dibaca maka andaikan kamu mempunyai hutang sebanyak gunung uhud maka Allah swt akan memberikan kemampuan untuk melunasi hutang yang kamu tanggung. Wahai Muadz bacalah , ........... (QS ali Imron ayat 26).
Tentunya, kita harus memahami, dengan memperbanyak membaca doa di atas dan bekerja keras berusaha demi mencari ridlo Allah swt maka doa kita akan terkabulkan, dan hutang-hutang kita dapat kita penuhi (luna) karena pertolongan Allah swt.
Semoga kita mampu mengambil pelajaran dan manfaat dari tulisan ini. amin ...
Kamis, 31 Maret 2011
Ogah Hidup Miskin
Kemiskinan menjadi persoalan sejak manusia lahir di dunia. Di negara kita angka kemiskinan masih cukup tinggi, akibatnya tingkat kesejahteraannya rendah, kualitas pendidikannya rendah, derajat kesehatannya juga rendah.
Bagi kita Umat Islam wajib meyakini pesan agama yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW "Kemiskinan itu hampir-hampir membawa seseorang menjadi kufur". Oleh karena itu kita diajarkan untuk senantiasa berdoa sesudah Shalat
اللهم إني أعوذ بك من الفقر والكفر
Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kehidupan dunia dalam keadaan fakir, dan aku berlindung kepada-Mu dari kufur dalam kehidupan di dunia ini.
Kandungan doa ini membawa pesan yang cukup dalam, bahwa kefakiran dalam hidup di dunia ini bisa berakibat pada terseretnya seseorang ke dalam jurang "kekufuran" (naudzubillahi min dzalik), dan kekufuran bisa berakibat kerugian bagi seseorang pada kehidupan mendatang.Bagaimana agar terhindar dari kefakiran/kemiskinan ?
Suatu saat ada seorang laki-laki (hidupnya dalam keadaan fakir) menghadap Rasulullah dan menangis tersedu-sedu. Orang tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang kehidupan (kefakiran) dirinya. Maka Rasulullah saw bersabda : "Jika kamu masuk tempat tinggalmu (rumah) maka berucaplah "SALAM" baik di tempat itu ada penghuninya (orang) maupun tidak ada; Kemudian bacalah sholawat kepadaku; kemudian bacalah QS. al-Ihlas sebanyak satu kali.
kemudian laki-laki tersebut mengamalkan pesan Rasulullah saw. hingga akhirnya dengan kehendak Allah swt. kehidupan laki-laki tersebut dalam keadaan kecukupan (tidak dalam kehidupan yang fakir/miskin).
أخرجه أبو مو سى المدنى : .... شكى رجل إلى النبى صلى الله عليه وسلم الفقر وضيق العيش ، فقال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم : إذا دخلت إلى منزلك فسلم إن كان فيه أحد أو لم يكن أحد فيه أحد ، ثم صل وسلم على ، وقرأ (قل هو الله أحد) مرة واحدة.
Maka, menjadi salah jika umat Islam tidak memperhatikan pesan Rasulullah saw di atas. Karena kita semua sepakat berikhtiar untuk mengupayakan bebas dari kehidupan fakir/miskin bagi keluarga kita dan bagi masyarakat Indonesia. Cobalah, marilah bersama mencoba dengan penuh keyakinan dan berharap pertolongan dan ridlo dari Allah subhanahu wata'ala. Wallahu 'alam
Senin, 21 Maret 2011
Damai dalam Hati
Al-Quran adalah kalamullah, kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan dijadikan pegangan hidup “way of life” bagi umat Islam yang mngharapkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Membaca Al-Quran adalah ibadah yang utama, dzikir yang utama sebagaimana dikatakan Syaich Hasyim Asyari (Rois Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama) di dalam kitab “Irsyadus Syari” .
أفضل الذ كر قرات القرآن ثم لا اله الا الله
Membaca Al-Quran menjadi dzikir utama, mengingat di dalamnya memuat kurang lebih 2697 lafal “Allah”, lafal “ar-Rahman” disebutkan 57 kali, lafal “ar-Rahim” disebutkan 115 kali, (baca, 99 Jalan Mengenal Allah, HM. Zurkani Jahja), dan masih banyak juga memuat asma Allah lainnya yang masuk dalam “asmaul husna”, di dalamnya juga memuat kalimat “allahumma” kalimat ini termasuk “ismullah al-‘adham (Jika kita berdoa dengan disertai membaca ismullah al-‘adham, maka pintu pelapang terbesar dan pintu penerimaan yang terdekat, yang dengannya segala tujuan bias tercapai).
Membaca Al-Quran memperoleh kebaikan pada setiap huruf yang dibaca oleh seseorang, dan setiap satu kebaikan ditingkatkan derajatnya oleh Allah sebanyak 10 tingkatan, sebagaimana hadits berikut :
عن عبد الله ابن مسعود يقول : قال رسول الله صلعم : مَنْ قَرَأ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، والْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا ، لا أ قُولُ الَم حَرْفٌ ولَكِنْ ألِفٌ حرفٌ ولام حرفٌ و مِيمٌ حرفز (رواه التر مذى)
Sungguh besar kemurahan Allah subhanahu wata’ala bagi orang-orang beriman yang membaca Al-Quran, Mengapa demikian ? Al-Quran memuat 30 Juz, 144 Surat, 6000 Ayat (menurut Imam Suyuthi) 6616 Ayat (menurut Al-Alusi). Lalu berapa jumlah huruf Al-Quran ? Dalam Buku “Keistimewaan Ayat Kursi” (Saifuddin Aman) disebutkan Al-Quran terdiri dari 340.700 huruf.
Bila dihubungkan dengan hadits riwayat Imam Turmudzi di atas, maka setiap orang yang menghatamkan Al-Quran sekali saja, maka akan mendapat 340.700 kebaikan, dan akan ditingkatkan sebanyak 3.407.000. Apalagi jika dalam satu tahun mampu menghatamkan Al-Quran sebanyak 10 kali maka, Allah subhanahu wata’ala akan menganugerahkan kebaikan kepadanya senilai 34.070.000, namun kebaikan seseorang yang menghatamkan Al-Quran 10 kali tidak sebanding dengan kenikmatan yang dikaruniakan Allah subhanahu wata’ala kepada manusia. Oleh karenanya, tidaklah pantas hamba yang membanggakan amal bacaan al-Quran dan amal kebaikan lainnya di hadapan Allah subhanahu wata’ala
Firman Allah
وإنْ تَعُدُّوْا نِعْمَهَ اللهِ لا تُحْصُْوا هَا
Bagaimana dengan yang tidak pernah hatam, jarang hatam, atau kadang-kadang hatam ? Bukankah termasuk ingkar akan nikmat Allah (naudzubillah min dzalik).
Orang mukmin yang membaca Al-Quran berbeda dengan yang tidak membaca Al-Quran, orang mukmin yang membaca Al-Quran diibaratkan oleh Rasulullah bagaikan “Utrujah” atau buah lemon, baunya harum dan rasanya manis. Orang mukmin yang tidak membaca Al- quran diibaratkan oleh Rasulullah bagaikan “Tamar” atau buah kurma, tidak berbau dan rasanya manis. Orang Munafik (fajir-banyak dosa) yang membaca Al-Quran diibaratkan oleh Rasulullah bagaikan “Roikhanah” atau semacam labu, baunya harum dan rasanya pahit. Orang mukmin yang tidak membaca Al-quran diibaratkan oleh Rasulullah bagaikan “Handholah” atau semacam bunga, baunya tidak sedap dan rasanya pahit.
عن أبى موسى رضى الله عنه, عن النبى صلعم قا ل: الْمُؤْمِنُ الّذي يَقْرَأُالقرآنَ ويَعْمَلُ بِهِ كالأُ تْرُجَّةٍ , طَعْمُها طَيِّبٌ وريحها طيّب، و ألمؤمن الذي لا يقرأالقرآنَ ويعمل به كا لتَّمْرَةِ طعمها طيّب ولارِيْحَ لَهَا، ومثلُ المنا فِقِ الّذي يقرأالقرآنَ كا الرَّيْحا نَةِ , ريحهاطيّب و طعمها مُرٌّ. و مثلُ المنا فِقِ الّذي لايقرأالقرآن كا الْحَنْظَلَةِ , طعمها مرّ،وخَبِيثٌ، و ريحها مرٌّ. (رواه البخا رى)
Bagi muslim belajar membaca Al-Quran adalah suatu keharusan, sebab dengan membaca Al-Quran maka seseorang akan memperoleh berkah, ketenangan, pahala, manfaat bagi kehidupan dunia akhirat. Bagaimana mungkin seorang muslim memperoleh keutamaan jika tidak mempunyai kemampuan membaca Al-Quran, dengan membaca Al-Quran seseorang secara perlahan akan terdorong untuk mempelajari isi kandungan Al-Quran, dengan mengetahui isi kandungan Al-Quran seseorang akan terdorong untuk mengamalkan isinya, dan ini adalah kewajiabn bagi setiap muslim.
Belajar Al-Quran dan mengajar Al-Quran adalah dua amal sholih yang menyebabkan seseorang menjadi “orang yang terbaik”, bahkan menjadi “orang yang utama”. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah saw., sbb :
عن عثما نَ رضى الله عنه, عن النبى صلى الله عليه و سلم قا ل : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّم القُرأنَ و علَّمَهُ (رواه البخا رى)
Diriwayatkan dari Usman r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda : “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran kemudian mengajarkannya kepada orang lain”. (HR. al-Bukhori)
عن عثما ن رضى الله عنه, عن النبى صلى الله عليه و سلم قا ل : إنَّ أفْضَلكُمْ مَنْ تعلَّمَ القرأن و علَّمَهُ (رواه البخا رى)
Diriwayatkan dari Usman r.a. dia berkata : bahwa Nabi saw. Pernah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran kemudian mengajarkannya kepada orang lain”. (HR. al-Bukhori)
Langganan:
Postingan (Atom)



